Penalti VAR: Kapan Wasit Berhak Memberikannya

Penalti VAR: Kapan Wasit Berhak Memberikannya. Sistem Video Assistant Referee (VAR) telah menjadi bagian penting dalam sepak bola modern untuk memastikan keputusan krusial lebih akurat, terutama terkait penalti. Penalti diberikan saat terjadi pelanggaran direct free kick di dalam kotak penalti, seperti tackling ceroboh, handball, atau holding. VAR hanya boleh intervensi pada kesalahan jelas dan nyata atau insiden serius yang terlewat, bukan setiap kontak kecil. Pada 2025, protokol VAR tetap fokus pada minimal intervensi maksimal manfaat, dengan penekanan pada review untuk gol, penalti, kartu merah langsung, dan mistaken identity. Memahami kapan VAR berhak campur tangan membantu mengurangi kontroversi di lapangan. INFO CASINO

Kondisi Pemberian Penalti Dasar: Penalti VAR: Kapan Wasit Berhak Memberikannya

Penalti diberikan jika pelanggaran terjadi di dalam kotak penalti saat bola dalam permainan. Pelanggaran utama termasuk tackling yang tidak hati-hati, pushing, atau holding yang menghentikan peluang jelas. Handball jadi penalti jika tangan membuat tubuh tidak alami lebih besar atau sengaja menyentuh bola untuk keuntungan. Wasit lapangan punya otoritas utama; VAR hanya intervensi jika ada clear and obvious error, seperti foul yang sebenarnya di luar kotak tapi diberi penalti, atau sebaliknya.

Untuk handball, VAR review point of contact dan apakah posisi tangan justifiable dari gerakan tubuh. Kontak ringan tanpa niat sering tidak dihukum, sesuai threshold tinggi untuk menjaga alur permainan. Jika wasit tidak beri penalti tapi VAR lihat pelanggaran jelas denying obvious goal-scoring opportunity, intervensi bisa terjadi. Keputusan akhir tetap di wasit, yang bisa lakukan on-field review untuk aspek subjektif seperti intensitas foul.

Peran VAR dalam Review Penalti: Penalti VAR: Kapan Wasit Berhak Memberikannya

VAR boleh review empat kategori utama: gol/no gol, penalti/no penalti, kartu merah langsung, dan mistaken identity. Khusus penalti, VAR cek attacking possession phase sebelum insiden, termasuk bagaimana tim menyerang dapatkan bola. Intervensi terjadi jika ada kesalahan faktual, seperti lokasi foul di dalam/luar kotak, atau offside sebelum pelanggaran.

Untuk eksekusi penalti, VAR monitor offence oleh kiper atau penendang, seperti double touch atau feigning. Jika double touch tidak sengaja dan gol terjadi, penalti diulang. Encroachment hanya direview jika pemain yang melanggar langsung terlibat, seperti menyentuh rebound dan memengaruhi hasil. Kiper yang maju terlalu awal juga dicek, tapi threshold ketat untuk retake. Review bisa VAR-only untuk fakta atau on-field jika subjektif, dengan slow motion untuk point of contact dan normal speed untuk intensitas.

Perubahan Terkini dan Dampaknya

Pada 2025/26, beberapa penyesuaian membuat VAR lebih efisien. Asisten wasit kini posisi sejajar penalty mark karena VAR tangani kiper encroachment sepenuhnya. Jika double touch tidak sengaja saat eksekusi sukses, penalti diulang alih-alih dibatalkan. Kompetisi boleh izinkan wasit umumkan keputusan VAR via speaker stadion untuk transparansi, kecuali offside faktual.

Threshold tinggi tetap untuk foul dan handball, tidak setiap kontak jadi penalti. Ini kurangi intervensi berlebih dan jaga tempo pertandingan. Namun, elemen subjektif seperti niat handball masih bisa picu debat, meski VAR bantu koreksi kesalahan nyata.

Kesimpulan

VAR berhak intervensi penalti hanya saat ada kesalahan jelas pada pelanggaran di kotak, handball, atau eksekusi, dengan fokus pada akurasi tanpa ganggu alur permainan. Wasit lapangan tetap pemegang keputusan akhir, didukung review untuk fakta dan subjektif. Dengan perubahan terkini seperti retake untuk double touch tidak sengaja dan pengumuman publik, sistem ini semakin matang. Penalti VAR bukan untuk perfeksionisme total, tapi untuk keadilan di momen krusial, membuat sepak bola lebih fair meski kadang masih ada ruang interpretasi.

BACA SELENGKAPNYA DI...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *